Keharusan Seorang Penyendiri

Seorang penyendiri harus siap memasuki keresahan-keresahan yang gelap. Ruang itu bisa saja di antara sela-sela pintu, di balik daun-daun basah, atau celah sempit di antara lipatan buku. Dia sanggup mengabaikan detik jam analog yang berisik, suara kipas angin yang dipasang di langit-langit, atau prasangka cuaca setelah hujan. Dia mampu meredam getaran, menetralkan udara yang keruh, dan mengubah gelombang suara menjadi hampa.

Seorang penyendiri harus mampu terpejam di malam yang licik, terjaga di hari yang jahat, dan bersiasat di senja yang jingga. Dia sanggup menjelma menjadi ketiadaan yang maha nihil, menyingkirkan bisik-bisik kegelisahan, dan melawan bayang-bayang sendiri.

Seorang penyendiri harus siap menjadi kata-kata, harus siap menjadi ketidakpastian, telah siap menjadi puisi.

Mei 2018

Iklan

Mencuri Pulang

: Alm. Totok Dwianto

Aku bergeming memandang wajahmu yang merintih menahan sakit. Ketika kecil kau menggendongku dan melompat bersama-sama di kolam. Aku tak bisa berenang dan minum banyak air mentah. Aku memasang adegan itu di dalam buku harian, dan sesekali kubuka ketika lelah bekerja.

Kasur rumah sakit ini keras katamu. Lalu aku ingat kau mengajakku berkeliling kota dengan bis Kopaja, dan memberitahuku nama-nama daerah di ibu kota. Di sudut pasar kau membelikanku buah berwarna melon dan jus yang tak kutahu namanya, belakangan aku tahu jus itu berasal dari buah alpukat. Sebelumnya aku hanya menerka-nerka namanya seperti menerka reaksimu setelah minum obat yang tak kunjung menyembuhkan.

Tengah malam kau mengeluh pinggangmu yang sakit seperti terlepas dari badannya, aku memijitnya meski aku tahu takkan menyembuhkan sakitnya. Aku terpejam sebentar dan menyaksikanmu di dalam mimpi menggendongku sambil berlari dalam hutan, sementara binatang-binatang buas mengejar, dan jalan keluar seakan tak kunjung datang. Ketika aku terbangun, antara mengigau atau berdoa, kau mengucapkan nama tuhan.

Ada masanya kau bisa bercerita tentang istri dan kampung halaman.

“Aku akan menantarkanmu pulang, tenang saja, sekarang mari kita sama-sama berjuang” kataku.

Setelah cuci darah, kau masih meracau nama tuhan.

Sementara tubuhku diserang kantuk dan rasa lapar. Aku keluar sebentar hendak melahap ayam bakar. Ketika aku kembali, ternyata kau telah lebih dulu pulang.

Tanpa sempat mengucap selamat tinggal.

Mei 2018

Penabur Bunga

Aku membuka pintu lemari dan menemukan bayanganmu tertidur pulas di dalamnya. Aku menyelimuti bayanganmu dengan selimut yang dirajut dari masa kecilku. Kau mengayuh sepeda menuju kantor, dan aku membonceng di belakangnya. Betapa bahagianya menjadi anak kecil yang abadi dalam diriku.

Aku selalu menunggu sekantong permen yang kau bawa sepulang kerja. Mengumpulkan bungkusnya yang beragam, dan menyimpannya dalam laci lemari. Suatu ketika kau membawakanku amplop-amplop bekas dengan berbagai perangko bergambar wajah presiden dan bunga-bunga yang cantik. Aku melepaskan perangko itu dan menempelkannya pada buku tulis kecil seukuran buku nota yang biasa dipakai di toko-toko kelontong. Kelak ketika dewasa, aku menggunakan perangko itu untuk menandai kenangan yang suka jatuh berceceran di tengah jalan.

Aku ke dapur dan membuat teh hangat, ketika aku megaduknya aku menemukan dirimu di dalamnya. Kau menggendongku menapaki jalan-jalan yang menanjak menuju rumah kita, sedang aku tertidur pulas di punggungmu. Malam mengetuk pintu, ketika kau menggiring induk ayam dan anak-anaknya ke kandang. Kau menyalakan lampu minyak yang berasap hitam, dan aku berharap aku bisa mencurinya agar aku bisa bawa ke masa tuaku yang redup.

Di masa kecil, belum ada yang namanya rindu, lalu ketika beranjak dewasa rindu itu akan tumbuh berkembang menjadi pohon yang banyak bunganya. Ketika malam, atau sedang tidak ada yang memperhatikan, aku suka memetik bunga itu lalu menaburkannya di dalam lemariku.

Mei, 2018

Tentang Ritual Minum Kopi dan Baca Puisi

Kau berjanji akan menjadi jutaan huruf yang menyusun dirinya menjadi kata-kata, untuk kemudian berangkaian menjadi kalimat-kalimat dengan majas yang orang sulit pahami, menjadi puisi yang tak putus-putus untuk hari yang telah dan akan sunyi. 

Aku buka pintu di pagi yang malas di bulan Agustus, ada hangat bekas sidik jarimu pada lantai dan dinding kamar. Cahaya seperti lagu lagu indie pop yang sering berseliweran dalam playlist telpon genggammu. Samar-samar menguapkan masa lalu. 

Semalam kau berjanji akan menjadi serbuk kopi yang selalu tersedia dalam lemari dapurku. "Agar aku bisa selalu menjadi pagimu yang paling pagi, dan malammu yang paling larut" katamu, "jangan campur aku dengan gula, aku ingin menikmati jagamu lebih lama, tanpa perlu kau cepat mati karena terserang diabetes" sambungmu lagi. 

 ***

Orang-orang di kota ini hidup dalam dunia yang mereka temukan dalam mimpi ketika mereka tidur. Masa depan adalah dongeng yang terus diceritakan pada sekolah-sekolah. 

Kadang aku berlari dalam diam, kadang aku diam dalam pelarian, dan orang-orang berusaha saling mendahului dalam diam.

Di kota ini, keangkuhan terus dibangun setinggi-tingginya, dan kebahagiaan terus dijajakan pada iklan-iklan, di papan-papan reklame, ditawarkan paksa oleh para sales telemarketing.

"Kita tak boleh berhenti bahagia" paksa orang-orang itu, tapi aku bosan dengan kebahagiaan. 

Di saat saat seperti itu, aku akan menuju dapur. Membuat secangkir kopi dan membaca puisi hingga pagi kembali pagi.

Ciputat, Agustus 2016

Malam di Legian

Sehabis hujan tengah malam. Kita melangkah keluar hotel, menyergap hawa dingin yang mulai menggigil. Mobil-mobil melambatkan kecepatan, genangan air di trotoar dan jalanan yang basah.

Masih terjaga minimarket 24 jam. Bar-bar memainkan musik rock tahun 90 an. Para pejalan kaki tak henti-hentinya mengukur jalanan.

Kita menyusuri toko di sepanjang Legian, aku membeli t-shirt hitam seharga lima puluh ribuan, dan kau membeli yoghurt seharga dua kali lipatnya.

Gerimis telah lelah berjatuhan.
Kita jalan bergandengan, bernyanyi-nyanyi, bertengkar lalu bercengkerama lagi,
seakan lupa betapa lelahnya kita, setelah sehari sebelumnya duduk berjam-jam di kursi pelaminan.

Mei 2018

Kaum Urban

Mereka masih saja mengutuk hari-hari mereka sebagai hari terburuknya, meskipun hari-hari itu mereka ciptakan dari doa mereka sendiri.

Setiap pagi setelah bangun dari tidurnya, mereka membebani tubuhnya dengan bayang-bayang yang lebih besar dari dosa. Pagi masih malas, dan aroma kopi telah menyeruak seperti kebosanan yang tak habis meski telah dihapus berulang kali. Apa yang lebih menyedihkan dari kabar duka, selain mengahadapi kepahitan, yang telah menjadi karib sendiri?

Tubuh-tubuh yang enggan berjalan, namun dipaksa untuk tetap berlari. Kota ini didesain untuk menampung kemacetan, sumpah serapah dan pengemudi yang tak takut mati. Orang-orang dipaksa untuk belajar sabar dari ayunan hingga liang lahat, layaknya sabda nabi.

Pintu kantor akan menyambut mereka dengan muka yang telah dipermak untuk tak henti-hentinya tersenyum, sebelum akhirnya komputer akan menghantam kepalanya kuat-kuat. Kertas-kertas akan menyayat kulitnya dan tinta printer akan merias wajahnya menjadi badut-badut korporasi. Darah, adalah salah satu syarat untuk membersihkan diri.

Kabarnya para bos senang membacakan sabda-sabda tuhan yang bernada indah, hingga imajinasi mereka tak akan lagi berfungsi.

Mereka berusaha mencari jalan keluar, melepaskan diri dari situasi, namun lagi-lagi mereka kembali masuk ke dalam doa mereka sendiri.

Mei 2018

Makan Soto

Aku berenang dalam masa kecilku yang hangat. Jalan menujumu bagaikan bergulung-gulung pipa tak henti aku masuki.

Ada asap mengepul di antara kepala dan masa lalu. Di sana seorang lelaki tersedot oleh pusaran sabda. Air matamu menggapai, hendak menyelamatkannya, tetapi mata air itu keburu kering oleh kenyataan.

Aku ingin hujan turun hari ini, agar kedukaan bisa aku lempar kehalaman dan hanyut mengikuti selokan kecil di pinggiran jalan.

Ketika besok pagi aku menerka-nerka tentang nasibku, aku berharap kau mengerti perihal hidup yang harus kita cintai berulang kali.

Baturetno, Mei 2018